satucode[dot]com.Kabar kurang mengenakan datang dari dunia Perbankan tanah air. Salah satu instasi keuangan di Indonesia, BI (Bank Indonesia) di kabarkan telah mengalami serangan peretas pada Rabu (22/07/2016) dini hari kemarin. Hal ini semakin menguatkan indikasi adanya upaya peretasan setelah Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas menginstruksikan untuk memblokir akses IP dari 149 negara yang tidak pernah mengkases website milik BI yang beralamat di http://bi.go.id.
![]() |
| Gawat, Bank Indonesia Di Serang Hacker |
Di kutip dari routers,selain Bank Indonesia sejumlah sentral perbankan dari negara lain pun turut menjadi korban dari serangan peretas yang di duga di lakukan oleh kelompok peretas kenamaan, Anonymous. Salah satunya adalah bank sentral Korea Selatan, Bank Of Korea.
Serangan masif yang di lakukan peretas yang menyasar institusi perbankan patut di waspadai setelah terjadinya aksi pembobolan Bank sentral di Bangladesh yang menelan kerugian hingga Rp 1.06 Triliun.
Serangan masif yang di lakukan peretas yang menyasar institusi perbankan patut di waspadai setelah terjadinya aksi pembobolan Bank sentral di Bangladesh yang menelan kerugian hingga Rp 1.06 Triliun.
Terkait insiden tersebut, Badan Pengkajian Penerapan Teknologi melalui Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material (TIEM BPPT), Hammam Riza mengatakan bahwa sudah saatnya indonesia membangun sistem keamanan digital yang lebih baik lagi, sehingga di harapkan di masa mendatang serangan-serangan semacam ini bisa di minialisir guna menghindari kerugian dan dapat segera pulih dengan cepat ketika mengalami serangan sejenis.
“Dunia siber Indonesia dalam kondisi sudah darurat untuk diterapkannya teknologi keamanan siber (cybersecurity, red). Perlu penguatan terhadap keamanan infrastruktur informasi kritis, seperti serangan ke Bank Indonesia ini,” tegasnya melalui pesan instan seperti di kutip dari tekno okezone.
Bank Indonesia sendiri mengalami serangan berjenis DDoS ( Denial Distribute of services ), di mana serangan ini umumnya menyerang sistem dengan membanjiri server dengan paket data sehingga akan menghabiskan resource sistem tersebut. Meskipun terlihat sederhana namun pada kenyataannya serangan jenis ini masih merupakan salah satu teknik serangan yang paling efektif untuk untuk mematikan akses terhadap suatu sistem atau situs tertentu.
Kedepannya, menurut Pria yang akrab di sapa Riza ini Indonesia harus segera memiliki semacam Critical Infratsructure Protection Plan untuk menghindari serangan serupa.
baca juga :
“Inilah pekerjaan yang harus diselesaikan oleh lintas Kementerian dan Lembaga mulai dari Polhukam, Kominfo, Lemsaneg, BPPT dan stakeholder terkait mempersiapkan CIIP. Perlu integrasi yang menyeluruh dengan sistem kesiapsiagaan nasional yang meliputi pencegahan, perlindungan, mitigasi, respons, dan pemulihan,” demikian tutup Riza ketika di mintai pendapatnya lebih lanjut.(andra/sc)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar